<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Sesuatu Yang Indah</title>
	<atom:link href="http://sheravim.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://sheravim.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 Jun 2008 07:27:53 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='sheravim.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Sesuatu Yang Indah</title>
		<link>http://sheravim.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://sheravim.wordpress.com/osd.xml" title="Sesuatu Yang Indah" />
	<atom:link rel='hub' href='http://sheravim.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Ketika Idealisme Berbicara</title>
		<link>http://sheravim.wordpress.com/2008/06/17/ketika-idealisme-berbicara/</link>
		<comments>http://sheravim.wordpress.com/2008/06/17/ketika-idealisme-berbicara/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 07:24:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jessicawuysang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liputan]]></category>
		<category><![CDATA[film]]></category>
		<category><![CDATA[indie]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sheravim.wordpress.com/?p=8</guid>
		<description><![CDATA[Pada hari minggu kemarin (16/3), saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan tiga orang pendiri Boemboe – sebuah lembaga yang mempromosikan dan mendistribusikan film pendek Indonesia ke seluruh dunia. Ketiga orang itu adalah Amin Sabhana,  Lulu Ratna dan Ray Nayoan. Mereka tampak hangat dan bersahabat ketika saya menghampiri di aula gedung PKM Untan. Setelah basa basi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sheravim.wordpress.com&amp;blog=3999086&amp;post=8&amp;subd=sheravim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Pada hari minggu kemarin (16/3), saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan tiga orang pendiri Boemboe – sebuah lembaga yang mempromosikan dan mendistribusikan film pendek Indonesia ke seluruh dunia. Ketiga orang itu adalah Amin Sabhana,<span>  </span>Lulu Ratna dan Ray Nayoan. <span id="more-8"></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Mereka tampak hangat dan bersahabat ketika saya menghampiri di aula gedung PKM Untan. Setelah basa basi perkenalan, tak lama pun kami larut dalam pembicaraan tentang seputar Boemboe dan dunia sinematografi Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="PT-BR">“Mau wawancara apa nih?” tanya Lulu mengawali pembicaraan. </span><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">“Wah, jangan bilang wawancara dong,<span>  </span>mbak, terlalu berat. </span><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Kita ngobrol-ngobrol biasa aja antar sesama teman,” mereka pun tertawa mendengar jawaban saya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Sejenak kemudian Lulu pun mulai bercerita, sesekali Amin dan Ray turut menambahkan. Boemboe berangkat dari sebuah idealisme yaitu ingin memajukan dunia film pendek di Indonesia, tentu yang mengangkat tema tentang kehidupan sehari-hari di Indonesia.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Mereka pun memulainya dengan mencari film-film pendek dari para sinemaker di Indonesia. Setelah itu Boemboe memfokuskan diri pada pendistribusian karya film pendek ke berbagai festival film di dalam maupun diluar negeri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Tidak hanya itu, Boemboe juga mendistribusikan koleksi film pendek (yang terdiri dari film lokal dan luar negeri) ke kota-kota kecil di pulau Jawa. Dan kota Salatiga, Jember dan Cirebon yang kemudian menjadi pilihan. “Kenapa di ketiga kota tadi? Kenapa tidak di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung atau pun Yogyakarta?” tanya saya sembari membolak-balik buku program Boemboe. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="PT-BR">Alasan mereka, di kota-kota besar sudah banyak festival film pendek. Karena itu Boemboe mengarahkan perhatiannya pada kota-kota kecil yang disebutkan tadi di atas. “Dan ternyata, masyarakat di ketiga kota itu sangat antusias dengan acara 3 Cities Short Film Festival 2006. </span><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">Bertemu dengan banyak pembuat film di sana, sungguh mengesankan bagi kami,” tutur Amin dengan mata berbinar-binar. </span><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="PT-BR"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="FI">Jatuh bangun Boemboe berjalan dari tahun 2003 hingga kini. </span><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">Banyak pengalaman berkesan yang didapatkan. Tapi tak sedikit pula mereka harus berhadapan dengan hal-hal yang tidak mengenakkan. “Tak jarang, kami selalu mendapat tuduhan dari beberapa pihak bahwa Boemboe hanya ingin mencari untung,” ujar Lulu dengan santainya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">“Lalu kalau tidak mencari untung, apa dong yang Boemboe dapatkan selama mendistribusikan film-film pendek dan mengadakan festival?” tanya saya ingin tahu, karena rasanya mustahil pula di masa sekarang, sebuah lembaga mau bergerak bukan atas landasan mencari uang. “Mba’, kami ini mempunyai latar belakang dari dunia film. Bagi kami, film tidak terpisahkan dari diri. Kami suka film, karena itu ingin membagi perasaan suka pada sesama penyuka dan pembuat film,” Lulu menjawab pertanyaan lancang tadi dengan penuh ketegasan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">Mungkin karena berdasarkan ketulusan dan kesungguhan dari ketiga personil Boemboe maka program acara yang mereka susun selalu mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, antara lain adalah Kedutaan Besar Perancis dan Fonds- Prince Claus Fund for Culture and Development. “Bukannya kami tidak nasionalis, tapi pihak luar lebih antusias terhadap program-program seni yang dilakukan oleh para seniman Indonesia”, jawab Ray. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="FI">Saya pun mengamini ucapan Ray. </span><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">Memang benar bahwa sangat jarang pihak dalam negeri memberikan perhatian lebih pada seniman atau pun budayawan Indonesia. Untuk mengadakan pameran atau pertunjukan seni, tak jarang para seniman harus mengeluarkan uang untuk membayar gedung, itu pun harganya seringkali tak masuk akal.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">Salah satu agenda acara yang diselenggarakan Boemboe adalah 3 Cities Short Film Festival yang diadakan 2 tahun sekali. </span><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="FI">Dan pada tahun 2008 ini, Pontianak menjadi salah satu kota yang diagendakan. Untuk itu, Boemboe bekerja sama dengan Yayasan Bangun Insan dan Budaya Rakyat (BIDAR) yang digawangi oleh Indra Ae’ – penggiat seni. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="FI">Bidar ini sendiri bukanlah komunitas film, tetapi lebih cocok disebut sebagai spesialis ekshibisi kegiatan seni dan budaya di Pontianak. </span><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">Para personil Bidar bekerja secara profesional dan terprogram, semua diperhatikan dengan detail dan seksama. Dan terbukti sudah beberapa pameran foto dan seni sukses diselenggarakan oleh Bidar sedari tahun 2000. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">Bidar sendiri memiliki misi mengusahakan kemajuan kebudayaan bangsa melalui usaha pengkajian dan pengembangan di bidang seni, kesusasteraan, sosial, budaya dan pendidikan. Pada konteks film, Bidar memiliki divisi yang bernama KAKAF (Kalimantan Komunitas Film). Pada pertengahan Agustus 2007 lalu, KAKAF berhasil menyelenggarakan Kalimantan Film Festival dengan menjaring 14 karya lokal dan belasan karya tamu dari luar Pontianak. </span><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;">Khusus pertengahan Juli 2008 ini, KAKAF akan menyelenggarakan Kalimantan Film Festival 2008 untuk kedua kalinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;">Berjumpa dengan Boemboe dan Bidar, dua lembaga yang bergerak atas idealisme sungguh membuka wacana pemikiran. Bahwa tidak semuanya harus diukur dengan materi. Masih ada yang namanya impian, khususnya dalam konteks ini adalah memajukan dunia film pendek di Indonesia. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;">Caranya? Yah itu tadi, dengan cara menjaring para pembuat film pendek yang bergerak secara swadaya dan kemudian mendistribusikan karya-karya para pembuat film pendek ke seluruh Indonesia dan luar negeri. “Apakah 3 Cities Short Film Festival ini akan sampai ke Papua?” tanya saya ingin tahu. “Jika kemungkinan itu ada, kenapa tidak?” pungkas Lulu dengan penuh semangat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">Yeah, apa pun bisa dilakukan dan diwujudkan asal ada kemauan dan semangat yang tak pernah padam. Pembicaraan pun berakhir dan tak lama saya larut pada suguhan karya artisitik film-film pendek Indonesia dan Perancis yang diputar oleh panitia. Sungguh mengesankan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">Dari hasil pengamatan saya, acara 3 Cities Short Film Festival di gedung PKM Untan Pontianak tidak terbilang cukup sukses. Entah karena apa, jumlah penonton yang hadir tidak banyak seperti acara-acara yang diselenggarakan oleh Bidar pada waktu lalu. Padahal berdasarkan hasil pembicaraan, panitia sudah berusaha maksimal dengan membuat berita di media lokal, juga menyebarkan pamflet dan leaflet ke sekolah-sekolah maupun kampus atau tempat nongkrong di seputar kota Pontianak. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;" lang="SV">Apakah hal ini menunjukkan kurangnya minat masyarakat, khususnya remaja pada film-film pendek? Padahal acara ini tidaklah dipungut bayaran. Rasanya sedikit ironis jika para remaja lebih tertarik mengeluarkan uang untuk menonton film di bioskop daripada menonton film-film pendek secara gratis. Mungkinkah film-film horror atau drama yang mendayu-dayu lebih menarik ketimbang film-film pendek tentang tema sosial diseputar kita? </span><span style="font-size:11pt;color:#666666;line-height:150%;font-family:&quot;">Wallahualam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sheravim.wordpress.com/8/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sheravim.wordpress.com/8/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sheravim.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sheravim.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sheravim.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sheravim.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sheravim.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sheravim.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sheravim.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sheravim.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sheravim.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sheravim.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sheravim.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sheravim.wordpress.com/8/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sheravim.wordpress.com/8/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sheravim.wordpress.com/8/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sheravim.wordpress.com&amp;blog=3999086&amp;post=8&amp;subd=sheravim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sheravim.wordpress.com/2008/06/17/ketika-idealisme-berbicara/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ecfb4ff9c920b9386dbefae38fc8d7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">QQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjaring Sampah</title>
		<link>http://sheravim.wordpress.com/2008/06/17/menjaring-sampah/</link>
		<comments>http://sheravim.wordpress.com/2008/06/17/menjaring-sampah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 07:17:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jessicawuysang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liputan]]></category>
		<category><![CDATA[laut]]></category>
		<category><![CDATA[sampah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sheravim.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Pada suatu sore di pelabuhan Kuala – Singkawang, terlihat sebuah kapal motor bergerak keluar dari dok. Para nelayan yang bermukim disitu hendak mencari ikan di sekitar muara pelabuhan. Mereka pun mulai menebarkan jala dan kapal bergerak secara perlahan melewati para pemancing yang setia hadir menghabiskan waktu hingga petang. Tak lama kapal pun berputar kembali memasuki [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sheravim.wordpress.com&amp;blog=3999086&amp;post=7&amp;subd=sheravim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#666666;" lang="EN-ID"><span style="font-size:small;"><span style="font-family:Times New Roman;">Pada suatu sore di pelabuhan Kuala – Singkawang, terlihat sebuah kapal motor bergerak keluar dari dok. Para nelayan yang bermukim disitu hendak mencari ikan di sekitar muara pelabuhan. Mereka pun mulai menebarkan jala dan kapal bergerak secara perlahan melewati para pemancing yang setia hadir menghabiskan waktu hingga petang. <span id="more-7"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#666666;" lang="EN-ID">Tak lama kapal pun berputar kembali memasuki dan kemudian berhenti untuk sejenak. Dua nelayan yang berada diatas atap kapal menarik jaring dari bawah air, dibantu oleh dua rekannya yang berada dibawah. Sesaat kemudian terlihat satu gumpalan besar muncul dari dalam air. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#666666;" lang="EN-ID">Semua yang ada disitu pun berdecak kagum sekaligus memandang takjub melihat hasil ‘tangkapan’ para nelayan yang tampak banyak. </span><span style="color:#666666;" lang="SV">Hanya sayang seribu sayang, yang mereka jaring bukanlah ikan atau pun udang seperti yang biasanya mereka peroleh tiap kali melaut tetapi sampah. Ikan yang mereka dapat hanya segelintir, tidak sampai sepuluh ekor. Lebihnya sampah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#666666;" lang="FI">Rona kekecewaan pun terlihat pada wajah para nelayan. Lagi-lagi hasil tangkapan hari ini mengecewakan, seperti hari kemarin. Menjaring sampah bukan lagi hal yang aneh. Berbagai jenis sampah terlihat, semuanya terbuat dari plastik.</span><span style="color:#666666;" lang="EN-ID"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#666666;" lang="FI">Masalah sampah sudah ada sejak dulu, tapi akhir-akhir ini tampaknya semakin parah. Hal ini bisa kita temukan di lingkungan sekitar. Seperti yang terlihat pada sungai Kapuas, tumpukan sampah di tiap sudut sudah menjadi pemandangan yang lumrah bagi warga di tepian sungai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#666666;" lang="FI">Keberadaan sampah bersaing dengan limbah rumah tangga seperti minyak makan bekas atau limbah cucian yang dibuang begitu saja. Yang menakjubkan, tak jauh dari situ tampak sekumpulan warga yang sedang mandi, mencuci baju bahkan menggosok gigi. </span><span style="color:#666666;" lang="SV">Bagi para pendatang, hal ini tentu mengejutkan. Tapi tidak bagi warga setempats, bagi mereka sudah tidak aneh lagi. Lambat laun tumpukan sampah menjadi salah satu elemen yang ‘tampak’nya harus hadir dalam kehidupan kita.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"><span style="color:#666666;" lang="SV">Keberadaan sampah juga sangat mudah ditemukan di semua pantai yang ada di Kalimantan Barat. Untuk wilayah terdekat, sebut saja<span>  </span>pantai Kijing, Pasir Panjang, Sinka Island, Kura-Kura, Samudera dan masih banyak lagi. Segala jenis sampah dapat dengan mudah kita temukan. Misalnya kaleng minuman, botol air mineral, kaleng oli, jerigen, ember plastik bahkan kaleng pembasmi nyamuk dan serangga terlihat mengapung di laut. Semua sampah tersebut selain merusak pemandangan, juga merusak ekosistem laut. Pertanyaannya, hendak sampai kapan hal ini dibiarkan berlarut-larut? Walhasil, masalah sampah bersaing dengan illegal logging dan pembakaran hutan yang tak pernah menemukan solusinya. Hingga akhirnya, semua itu menjadi teman akrab bagi kita dalam suatu kehidupan.</span><span style="color:#666666;" lang="EN-ID"><a href="http://sheravim.multiply.com/photos/hi-res/upload/R8KmHQoKCp0AAB8cSdE1"></a></span><span style="color:#666666;" lang="SV"></span></p>
<p><span style="color:#666666;" lang="EN-ID"><font size="3"><font face="Times New Roman"></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p></font></font></span></span><span style="color:#666666;" lang="EN-ID"><font size="3"></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<p></font></span></span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="background:white;line-height:150%;text-align:justify;margin:0;"> </p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sheravim.wordpress.com/7/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sheravim.wordpress.com/7/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sheravim.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sheravim.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sheravim.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sheravim.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sheravim.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sheravim.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sheravim.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sheravim.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sheravim.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sheravim.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sheravim.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sheravim.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sheravim.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sheravim.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sheravim.wordpress.com&amp;blog=3999086&amp;post=7&amp;subd=sheravim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sheravim.wordpress.com/2008/06/17/menjaring-sampah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ecfb4ff9c920b9386dbefae38fc8d7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">QQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Suatu Sore di Taman Alun-Alun Kapuas</title>
		<link>http://sheravim.wordpress.com/2008/06/17/suatu-sore-di-taman-alun-alun-kapuas/</link>
		<comments>http://sheravim.wordpress.com/2008/06/17/suatu-sore-di-taman-alun-alun-kapuas/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 Jun 2008 07:05:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>jessicawuysang</dc:creator>
				<category><![CDATA[Liputan]]></category>
		<category><![CDATA[alun-alun ; kapuas]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://sheravim.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[  Dengan semakin bertambahnya mall, cafe dan pusat hiburan keluarga yang menjamur di kota Pontianak, ternyata tidak mengurangi minat masyarakat untuk menghabiskan waktu di Taman Alun-Alun Kapuas. Hal ini bisa dilihat setiap kali kita menginjakkan kaki di tempat tersebut, terlihat banyak warga yang berjalan-jalan melihat pemandangan Sungai Kapuas di sore atau pun pada malam hari. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sheravim.wordpress.com&amp;blog=3999086&amp;post=5&amp;subd=sheravim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p> </p>
<p><span lang="FI">Dengan semakin bertambahnya mall, cafe dan pusat hiburan keluarga yang menjamur di kota Pontianak, ternyata tidak mengurangi minat masyarakat untuk menghabiskan waktu di Taman Alun-Alun Kapuas. Hal ini bisa dilihat setiap kali kita menginjakkan kaki di tempat tersebut, terlihat banyak warga yang berjalan-jalan melihat pemandangan Sungai Kapuas di sore atau pun pada malam hari. </span></p>
<p><span lang="FI"><span id="more-5"></span>Salah satu pengunjung yang saya jumpai adalah pasangan suami istri Bapak dan Ibu Aziz. Sudah sedari muda sebelum menikah, mereka menjadikan Taman Alun-Alun Kapuas sebagai tempat berwisata. Kebiasaan ini pun terus berlanjut hingga mereka menikah dan mempunyai anak. Setelah anak-anak mereka tumbuh dewasa, kebiasaan ini pun tak pernah bosan untuk dilakukan. Alasannya adalah, ”Senang melihat pemandangan Sungai Kapuas sembari ngobrol, rasanya tentram sekali. Apalagi setelah tempat ini direnovasi, terasa lebih lapang”. Setelah renovasi pada tahun 1999, tata letak dan arsitektur taman ini memang terlihat bagus dan menarik, ditambah lagi dengan adanya lengkungan yang dilengkapi dengan tangga-tangga yang bisa dijadikan tempat duduk bagi para pengunjung. Tak heran bila tempat ini selalu dipadati setiap sore atau pun pada malam minggu. Mengapa tempat ini selalu dipadati, semua itu tak lepas dari kurangnya taman kota yang tersedia di kota Pontianak. Selain itu, dengan banyaknya penjual jagung bakar dan makanan kecil lainnya cukup menarik minat masyarakat untuk mengisi waktu bersama keluarga maupun teman. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span lang="SV">Tapi sayangnya tempat ini tidak dilengkapi dengan fasilitas tempat pembuangan sampah. Alhasil, sampah menghiasi beberapa sudut taman dan bahkan tidak sedikit pengunjung atau pun penjual terlihat sedang membuang sampah ke sungai Kapuas. Hal ini tentu bisa merusak lingkungan sungai Kapuas yang semakin hari dipenuhi oleh sampah produktif dan limbah rumah tangga. Selain sampah, pengunjung juga mengeluhkan tidak adanya fasilitas tempat duduk. Karena itu, duduk di sepanjang emperan taman menjadi pilihan. Bahkan tidak sedikit anak-anak remaja yang memilih duduk diatas teralis pagar besi. Tentu hal ini cukup beresiko, karena jika tidak berhati-hati menjaga keseimbangan tubuh, besar kemungkinan dapat terjatuh ke dalam sungai. Mengenai keamanannya sendiri, penjual yang berada di dalam Taman Alun-Alun Kapuas menyatakan keadaan disitu cukup kondusif dan terjaga. </span><span lang="FI">Semua itu tak lepas dari peranan para petugas yang ada di Korem, yang selalu memantau keamanan di Taman Alun-Alun Sungai Kapuas. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="line-height:150%;text-align:justify;"><span lang="FI">Walaupun ada satu stigma dalam masyarakat Pontianak yang menyatakan bahwa Taman Alun-Alun Kapuas adalah tempat hiburan bagi ’orang-orang pinggiran’, tapi hal ini tidak terlalu digubris oleh para remaja yang saya jumpai. Seperti yang kita ketahui bahwa remaja di masa sekarang lumayan mementingkan gengsi dan lebih memilih menghabiskan waktu di mall atau pun cafe. Dan semua itu tak lepas dari ketiadaan taman kota yang kiranya bisa menjadi pilihan bagi remaja atau pun keluarga untuk menghabiskan waktu senggang di sore atau pun malam hari.</span></p>
<br /><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/categories/sheravim.wordpress.com/5/" /> <img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/tags/sheravim.wordpress.com/5/" /> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/sheravim.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/sheravim.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/sheravim.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/sheravim.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/sheravim.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/sheravim.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/sheravim.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/sheravim.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/sheravim.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/sheravim.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/sheravim.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/sheravim.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/sheravim.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/sheravim.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=sheravim.wordpress.com&amp;blog=3999086&amp;post=5&amp;subd=sheravim&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://sheravim.wordpress.com/2008/06/17/suatu-sore-di-taman-alun-alun-kapuas/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/7ecfb4ff9c920b9386dbefae38fc8d7c?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">QQ</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
