
Suatu Sore di Taman Alun-Alun Kapuas
Juni 17, 2008
Dengan semakin bertambahnya mall, cafe dan pusat hiburan keluarga yang menjamur di kota Pontianak, ternyata tidak mengurangi minat masyarakat untuk menghabiskan waktu di Taman Alun-Alun Kapuas. Hal ini bisa dilihat setiap kali kita menginjakkan kaki di tempat tersebut, terlihat banyak warga yang berjalan-jalan melihat pemandangan Sungai Kapuas di sore atau pun pada malam hari.
Salah satu pengunjung yang saya jumpai adalah pasangan suami istri Bapak dan Ibu Aziz. Sudah sedari muda sebelum menikah, mereka menjadikan Taman Alun-Alun Kapuas sebagai tempat berwisata. Kebiasaan ini pun terus berlanjut hingga mereka menikah dan mempunyai anak. Setelah anak-anak mereka tumbuh dewasa, kebiasaan ini pun tak pernah bosan untuk dilakukan. Alasannya adalah, ”Senang melihat pemandangan Sungai Kapuas sembari ngobrol, rasanya tentram sekali. Apalagi setelah tempat ini direnovasi, terasa lebih lapang”. Setelah renovasi pada tahun 1999, tata letak dan arsitektur taman ini memang terlihat bagus dan menarik, ditambah lagi dengan adanya lengkungan yang dilengkapi dengan tangga-tangga yang bisa dijadikan tempat duduk bagi para pengunjung. Tak heran bila tempat ini selalu dipadati setiap sore atau pun pada malam minggu. Mengapa tempat ini selalu dipadati, semua itu tak lepas dari kurangnya taman kota yang tersedia di kota Pontianak. Selain itu, dengan banyaknya penjual jagung bakar dan makanan kecil lainnya cukup menarik minat masyarakat untuk mengisi waktu bersama keluarga maupun teman.
Tapi sayangnya tempat ini tidak dilengkapi dengan fasilitas tempat pembuangan sampah. Alhasil, sampah menghiasi beberapa sudut taman dan bahkan tidak sedikit pengunjung atau pun penjual terlihat sedang membuang sampah ke sungai Kapuas. Hal ini tentu bisa merusak lingkungan sungai Kapuas yang semakin hari dipenuhi oleh sampah produktif dan limbah rumah tangga. Selain sampah, pengunjung juga mengeluhkan tidak adanya fasilitas tempat duduk. Karena itu, duduk di sepanjang emperan taman menjadi pilihan. Bahkan tidak sedikit anak-anak remaja yang memilih duduk diatas teralis pagar besi. Tentu hal ini cukup beresiko, karena jika tidak berhati-hati menjaga keseimbangan tubuh, besar kemungkinan dapat terjatuh ke dalam sungai. Mengenai keamanannya sendiri, penjual yang berada di dalam Taman Alun-Alun Kapuas menyatakan keadaan disitu cukup kondusif dan terjaga. Semua itu tak lepas dari peranan para petugas yang ada di Korem, yang selalu memantau keamanan di Taman Alun-Alun Sungai Kapuas.
Walaupun ada satu stigma dalam masyarakat Pontianak yang menyatakan bahwa Taman Alun-Alun Kapuas adalah tempat hiburan bagi ’orang-orang pinggiran’, tapi hal ini tidak terlalu digubris oleh para remaja yang saya jumpai. Seperti yang kita ketahui bahwa remaja di masa sekarang lumayan mementingkan gengsi dan lebih memilih menghabiskan waktu di mall atau pun cafe. Dan semua itu tak lepas dari ketiadaan taman kota yang kiranya bisa menjadi pilihan bagi remaja atau pun keluarga untuk menghabiskan waktu senggang di sore atau pun malam hari.