
Menjaring Sampah
Juni 17, 2008Pada suatu sore di pelabuhan Kuala – Singkawang, terlihat sebuah kapal motor bergerak keluar dari dok. Para nelayan yang bermukim disitu hendak mencari ikan di sekitar muara pelabuhan. Mereka pun mulai menebarkan jala dan kapal bergerak secara perlahan melewati para pemancing yang setia hadir menghabiskan waktu hingga petang.
Tak lama kapal pun berputar kembali memasuki dan kemudian berhenti untuk sejenak. Dua nelayan yang berada diatas atap kapal menarik jaring dari bawah air, dibantu oleh dua rekannya yang berada dibawah. Sesaat kemudian terlihat satu gumpalan besar muncul dari dalam air.
Semua yang ada disitu pun berdecak kagum sekaligus memandang takjub melihat hasil ‘tangkapan’ para nelayan yang tampak banyak. Hanya sayang seribu sayang, yang mereka jaring bukanlah ikan atau pun udang seperti yang biasanya mereka peroleh tiap kali melaut tetapi sampah. Ikan yang mereka dapat hanya segelintir, tidak sampai sepuluh ekor. Lebihnya sampah.
Rona kekecewaan pun terlihat pada wajah para nelayan. Lagi-lagi hasil tangkapan hari ini mengecewakan, seperti hari kemarin. Menjaring sampah bukan lagi hal yang aneh. Berbagai jenis sampah terlihat, semuanya terbuat dari plastik.
Masalah sampah sudah ada sejak dulu, tapi akhir-akhir ini tampaknya semakin parah. Hal ini bisa kita temukan di lingkungan sekitar. Seperti yang terlihat pada sungai Kapuas, tumpukan sampah di tiap sudut sudah menjadi pemandangan yang lumrah bagi warga di tepian sungai.
Keberadaan sampah bersaing dengan limbah rumah tangga seperti minyak makan bekas atau limbah cucian yang dibuang begitu saja. Yang menakjubkan, tak jauh dari situ tampak sekumpulan warga yang sedang mandi, mencuci baju bahkan menggosok gigi. Bagi para pendatang, hal ini tentu mengejutkan. Tapi tidak bagi warga setempats, bagi mereka sudah tidak aneh lagi. Lambat laun tumpukan sampah menjadi salah satu elemen yang ‘tampak’nya harus hadir dalam kehidupan kita.
Keberadaan sampah juga sangat mudah ditemukan di semua pantai yang ada di Kalimantan Barat. Untuk wilayah terdekat, sebut saja pantai Kijing, Pasir Panjang, Sinka Island, Kura-Kura, Samudera dan masih banyak lagi. Segala jenis sampah dapat dengan mudah kita temukan. Misalnya kaleng minuman, botol air mineral, kaleng oli, jerigen, ember plastik bahkan kaleng pembasmi nyamuk dan serangga terlihat mengapung di laut. Semua sampah tersebut selain merusak pemandangan, juga merusak ekosistem laut. Pertanyaannya, hendak sampai kapan hal ini dibiarkan berlarut-larut? Walhasil, masalah sampah bersaing dengan illegal logging dan pembakaran hutan yang tak pernah menemukan solusinya. Hingga akhirnya, semua itu menjadi teman akrab bagi kita dalam suatu kehidupan.