
Ketika Idealisme Berbicara
Juni 17, 2008Pada hari minggu kemarin (16/3), saya mendapatkan kesempatan untuk bertemu dengan tiga orang pendiri Boemboe – sebuah lembaga yang mempromosikan dan mendistribusikan film pendek Indonesia ke seluruh dunia. Ketiga orang itu adalah Amin Sabhana, Lulu Ratna dan Ray Nayoan.
Mereka tampak hangat dan bersahabat ketika saya menghampiri di aula gedung PKM Untan. Setelah basa basi perkenalan, tak lama pun kami larut dalam pembicaraan tentang seputar Boemboe dan dunia sinematografi Indonesia.
“Mau wawancara apa nih?” tanya Lulu mengawali pembicaraan. “Wah, jangan bilang wawancara dong, mbak, terlalu berat. Kita ngobrol-ngobrol biasa aja antar sesama teman,” mereka pun tertawa mendengar jawaban saya.
Sejenak kemudian Lulu pun mulai bercerita, sesekali Amin dan Ray turut menambahkan. Boemboe berangkat dari sebuah idealisme yaitu ingin memajukan dunia film pendek di Indonesia, tentu yang mengangkat tema tentang kehidupan sehari-hari di Indonesia.
Mereka pun memulainya dengan mencari film-film pendek dari para sinemaker di Indonesia. Setelah itu Boemboe memfokuskan diri pada pendistribusian karya film pendek ke berbagai festival film di dalam maupun diluar negeri.
Tidak hanya itu, Boemboe juga mendistribusikan koleksi film pendek (yang terdiri dari film lokal dan luar negeri) ke kota-kota kecil di pulau Jawa. Dan kota Salatiga, Jember dan Cirebon yang kemudian menjadi pilihan. “Kenapa di ketiga kota tadi? Kenapa tidak di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung atau pun Yogyakarta?” tanya saya sembari membolak-balik buku program Boemboe.
Alasan mereka, di kota-kota besar sudah banyak festival film pendek. Karena itu Boemboe mengarahkan perhatiannya pada kota-kota kecil yang disebutkan tadi di atas. “Dan ternyata, masyarakat di ketiga kota itu sangat antusias dengan acara 3 Cities Short Film Festival 2006. Bertemu dengan banyak pembuat film di sana, sungguh mengesankan bagi kami,” tutur Amin dengan mata berbinar-binar.
Jatuh bangun Boemboe berjalan dari tahun 2003 hingga kini. Banyak pengalaman berkesan yang didapatkan. Tapi tak sedikit pula mereka harus berhadapan dengan hal-hal yang tidak mengenakkan. “Tak jarang, kami selalu mendapat tuduhan dari beberapa pihak bahwa Boemboe hanya ingin mencari untung,” ujar Lulu dengan santainya.
“Lalu kalau tidak mencari untung, apa dong yang Boemboe dapatkan selama mendistribusikan film-film pendek dan mengadakan festival?” tanya saya ingin tahu, karena rasanya mustahil pula di masa sekarang, sebuah lembaga mau bergerak bukan atas landasan mencari uang. “Mba’, kami ini mempunyai latar belakang dari dunia film. Bagi kami, film tidak terpisahkan dari diri. Kami suka film, karena itu ingin membagi perasaan suka pada sesama penyuka dan pembuat film,” Lulu menjawab pertanyaan lancang tadi dengan penuh ketegasan.
Mungkin karena berdasarkan ketulusan dan kesungguhan dari ketiga personil Boemboe maka program acara yang mereka susun selalu mendapatkan bantuan dari berbagai pihak, antara lain adalah Kedutaan Besar Perancis dan Fonds- Prince Claus Fund for Culture and Development. “Bukannya kami tidak nasionalis, tapi pihak luar lebih antusias terhadap program-program seni yang dilakukan oleh para seniman Indonesia”, jawab Ray.
Saya pun mengamini ucapan Ray. Memang benar bahwa sangat jarang pihak dalam negeri memberikan perhatian lebih pada seniman atau pun budayawan Indonesia. Untuk mengadakan pameran atau pertunjukan seni, tak jarang para seniman harus mengeluarkan uang untuk membayar gedung, itu pun harganya seringkali tak masuk akal.
Salah satu agenda acara yang diselenggarakan Boemboe adalah 3 Cities Short Film Festival yang diadakan 2 tahun sekali. Dan pada tahun 2008 ini, Pontianak menjadi salah satu kota yang diagendakan. Untuk itu, Boemboe bekerja sama dengan Yayasan Bangun Insan dan Budaya Rakyat (BIDAR) yang digawangi oleh Indra Ae’ – penggiat seni.
Bidar ini sendiri bukanlah komunitas film, tetapi lebih cocok disebut sebagai spesialis ekshibisi kegiatan seni dan budaya di Pontianak. Para personil Bidar bekerja secara profesional dan terprogram, semua diperhatikan dengan detail dan seksama. Dan terbukti sudah beberapa pameran foto dan seni sukses diselenggarakan oleh Bidar sedari tahun 2000.
Bidar sendiri memiliki misi mengusahakan kemajuan kebudayaan bangsa melalui usaha pengkajian dan pengembangan di bidang seni, kesusasteraan, sosial, budaya dan pendidikan. Pada konteks film, Bidar memiliki divisi yang bernama KAKAF (Kalimantan Komunitas Film). Pada pertengahan Agustus 2007 lalu, KAKAF berhasil menyelenggarakan Kalimantan Film Festival dengan menjaring 14 karya lokal dan belasan karya tamu dari luar Pontianak. Khusus pertengahan Juli 2008 ini, KAKAF akan menyelenggarakan Kalimantan Film Festival 2008 untuk kedua kalinya.
Berjumpa dengan Boemboe dan Bidar, dua lembaga yang bergerak atas idealisme sungguh membuka wacana pemikiran. Bahwa tidak semuanya harus diukur dengan materi. Masih ada yang namanya impian, khususnya dalam konteks ini adalah memajukan dunia film pendek di Indonesia.
Caranya? Yah itu tadi, dengan cara menjaring para pembuat film pendek yang bergerak secara swadaya dan kemudian mendistribusikan karya-karya para pembuat film pendek ke seluruh Indonesia dan luar negeri. “Apakah 3 Cities Short Film Festival ini akan sampai ke Papua?” tanya saya ingin tahu. “Jika kemungkinan itu ada, kenapa tidak?” pungkas Lulu dengan penuh semangat.
Yeah, apa pun bisa dilakukan dan diwujudkan asal ada kemauan dan semangat yang tak pernah padam. Pembicaraan pun berakhir dan tak lama saya larut pada suguhan karya artisitik film-film pendek Indonesia dan Perancis yang diputar oleh panitia. Sungguh mengesankan.
Dari hasil pengamatan saya, acara 3 Cities Short Film Festival di gedung PKM Untan Pontianak tidak terbilang cukup sukses. Entah karena apa, jumlah penonton yang hadir tidak banyak seperti acara-acara yang diselenggarakan oleh Bidar pada waktu lalu. Padahal berdasarkan hasil pembicaraan, panitia sudah berusaha maksimal dengan membuat berita di media lokal, juga menyebarkan pamflet dan leaflet ke sekolah-sekolah maupun kampus atau tempat nongkrong di seputar kota Pontianak.
Apakah hal ini menunjukkan kurangnya minat masyarakat, khususnya remaja pada film-film pendek? Padahal acara ini tidaklah dipungut bayaran. Rasanya sedikit ironis jika para remaja lebih tertarik mengeluarkan uang untuk menonton film di bioskop daripada menonton film-film pendek secara gratis. Mungkinkah film-film horror atau drama yang mendayu-dayu lebih menarik ketimbang film-film pendek tentang tema sosial diseputar kita? Wallahualam.